1. Struktur Membran Sel
Struktur membran sel yaitu model
mozaik fluida yang dikemukakan oleh Singer dan Nicholson pada tahun 1972. Pada
teori mozaik fluida membran merupakan 2 lapisan lemak dalam bentuk fluida
dengan molekul lipid yang dapat berpindah secara lateral di sepanjang lapisan
membran. Protein membran tersusun secara tidak beraturan yang menembus lapisan
lemak. Jadi dapat dikatakan membran sel sebagai struktur yang dinamis dimana
komponen-komponennya bebas bergerak dan dapat terikat bersama dalam berbagai
bentuk interaksi semipermanen Komponen penyusun membran sel antara lain adalah
phosfolipids, protein, oligosakarida, glikolipid, dan kolesterol.
Komponen utama membran sel terdiri
atas Phosfolipid, selain itu terdapat senyawa lipid seperti sfingomyelin,
kolesterol, dan glikolipida. Phosfolipid memiliki dua bagian yaitu bagian yang
bersifat hidrofilik dan bagian yang bersifat hidrofobik. Bagian hidrofobik
merupakan bagian yang terdiri atas asam lemak. Sedangkan bagian hidrofilik
terdiri atas gliserol, phosfat, dan gugus tambahan seperti kolin, serin, dan
lain-lain. Penamaan phosfolipid dan sifat masing-masing akan bergantung pada
jenis gugus tambahan yang dimiliki oleh phosfolipid. Jenis-jenis phosfolipid
penyusun membran sel antara lain adalah : phosfokolin (pc), phosfoetanolamin
(pe), phosfoserin (ps), dan phosfoinositol (pi). Secara alami di alam phosfolipid
akan membentuk struktur misel (struktur menyerupai bola) atau membran lipid 2
lapis. Karena strukturnya yang dinamis maka komponen phosfolipid di membran
dapat melakukan pergerakan dan perpindahan posisi. Pergerakan yang terjadi
antara lain adalah pergerakan secara lateral (Pergerakan molekul lipid dengan
tetangganya pada monolayer membran) dan pergerakan secara flip flop (Tipe
pergerakan trans bilayer).
Protein inegral membran,
terintegrasi pada lapisan lipid dan menembus 2 lapisan lipid / transmembran.
Protein integral memiliki domain membentang di luar sel dan di sitoplasma.
Bersifat amfipatik, mempunyai sekuen helix protein, hidrofobik, menembus
lapisan lipida, dan untaian asam amino hidrofilik. Banyak diantaranya merupakan
glikoprotein, gugus gula pada sebelah luar sel. Di sintesis di RE, gula
dimodifikasi di badan golgi.
Permukaan luar setiap sel dibatasi
oleh selaput halus dan elastis yang disebut membran sel. Membran ini sangat
penting dalam pengaturan isi sel, karena semua bahan yang keluar atau masuk
harus melalui membran ini. Hal ini berarti, membran sel mencegah masuknya
zat-zat tertentu dan memudahkan masuknya zat-zat yang lain. Selain membatasi
sel, membran plasma juga membatasi berbagai organel-organel dalam sel, seperti
vakuola, mitokondria, dan kloroplas.
Membran plasma bersifat diferensial
permeabel, mempunyai pori-pori ultramikroskopik yang dilalui zat-zat tertentu.
Ukuran pori-pori ini menentukan besar maksimal molekul yang dapat melalui
membran. Selain besar molekul, faktor lain yang mempengaruhi masuknya suatu zat
ke dalam sel adalah muatan listrik, jumlah molekul air, dan daya larut partikel
dalam air.
Membran sel terdiri atas dua lapis
molekul fosfolipid (lemak yang bersenyawa dengan fosfat). Bagian ekor dengan
asam lemak yang bersifat hidrofobik (nonpolar), kedua lapis molekul tersebut
saling berorientasi ke dalam. Sedangkan, bagian kepala bersifat hidrofilik
(polar) mengarah ke lingkungan yang berair. Selain fosfolipid terdapat juga
glikolipid (lemak yang bersenyawa dengan karbohidrat) dan sterol (lemak alkohol
terutama kolesterol). Sedangkan, komponen protein terletak pada membran dengan
posisi yang berbeda-beda. Beberapa protein terletak periferal, sedangkan yang
lain tertanam integral dalam lapis ganda fosfolipid. Beberapa protein membran
adalah enzim, sedangkan yang lain adalah reseptor bagi hormon atau senyawa
tertentu lainnya. Komposisi lipid dan protein penyusun membran bervariasi,
tergantung pada jenis dan fungsi membran itu sendiri.
Namun, membran mempunyai ciri-ciri yang
sama, yaitu bersifat permeable selektif terhadap molekul-molekul. Sehingga,
membran sel dapat mempertahankan bentuk dan ukuran sel.
2.
Fungsi Membran Sel
Salah satu fungsi dari membran sel
adalah sebagai lalu lintas molekul dan ion secara dua arah. Molekul yang dapat
melewati membran sel antara lain ialah molekul hidrofobik (CO2, O2), dan
molekul polar yang sangat kecil (air, etanol). Sementara itu, molekul lainnya
seperti molekul polar dengan ukuran besar (glukosa), ion, dan substansi
hidrofilik membutuhkan mekanisme khusus agar dapat masuk ke dalam sel.
Banyaknya molekul yang masuk dan
keluar membran menyebabkan terciptanya lalu lintas membran. Lalu lintas membran
digolongkan menjadi dua cara, yaitu dengan transpor pasif untuk molekul-molekul
yang mampu melalui membran tanpa mekanisme khusus dan transpor aktif untuk
molekul yang membutuhkan mekanisme khusus.
Pada sel eukariota, membran sel yang
membungkus organel-organel di dalamnya, terbentuk dari dua macam senyawa yaitu
lipid dan protein, umumnya berjenis fosfolipid seperti senyawa antara
fosfatidil etanolamina dan kolesterol, yang membentuk struktur dengan dua
lapisan dengan permeabilitas tertentu sehingga tidak semua molekul dapat
melalui membran sel, namun di sela-sela molekul fosfolipid tersebut, terdapat
transporter yang merupakan jalur masuk dan keluarnya zat-zat yang dibutuhkan
dan tidak dibutuhkan oleh sel.
Nilai permeabilitas air pada membran
ganda dari berbagai komposisi lipid berkisar antara 2 hingga 1.000 × 10−5 cm2/dt.
Angka tertinggi ditemukan pada membran plasma pada sel epitelial ginjal,
beberapa sel glia dan beberapa sel yang dipengaruhi oleh protein membran dari
jenis akuaporin. Akuaporin-2 memungkinkan adanya transporter air yang peka
terhadap vasopresin, sedang ekspresi akuaporin-4 ditemukan sangat tinggi pada
beberapa sel glia dan ependimal.
Pada tahun 1972, Seymour Jonathan
Singer dan Garth Nicholson mengemukakan model mosaik fluida yang disusun
berdasarkan hukum-hukum termodinamika untuk menjelaskan struktur membran sel.
Pada model ini, protein penyusun
membran dijabarkan sebagai sekelompok molekul globular heterogenus yang
tersusun dalam struktur amfipatik, yaitu dengan gugus ionik dan polar menghadap
ke fase akuatik, dan gugus non-polar menghadap ke dalam interior membran yang
disebut matriks fosfolipid dan bersifat hidrofobik. Himpunan-himpunan molekul
globular tersebut terbenam sebagian ke dalam matriks fosfolipid tersebut.
Struktur membran teratur membentuk lapisan ganda fluida yang diskontinu, dan
sebagian kecil dari matriks fosfolipid berinteraksi dengan molekul globular
tersebut sehinggal struktur mosaik fluida merupakan analogi lipoprotein atau
protein integral di dalam larutan membran ganda fosfolipid.
3. Fungsi Transportasi Membran Sel
Ada banyak fungsi yang dilakukan
oleh membran sel salah satunya adalah untuk pengangkutan zat dari luar atau
kedalam sel.
Rangka Sitoskeleton merupakan membran sel yang bekerja
sebagai penutup untuk organel internal dan melindungi mereka. Fungsi ini sangat
vital dalam sel-sel hewan, yang kekurangan dinding sel. Rangka membran
sitoskeleton ini (jaringan selular ‘kerangka’ yang terbuat dari protein dan
terkandung dalam sitoplasma) dan memberi bentuk pada sel. Para mikrofilamen
sitoskeleton melekat pada protein tertentu dalam membran sel, terutama yang
bagian integral. Mikrofilamen ini juga telah memegang protein di tempat, sebagai
yang terakhir memiliki kecenderungan untuk bergerak. Ilustrasi di bawah ini
menunjukkan sitoskeleton karena tersuspensi dalam sitoplasma dan melekat ke
membran sel.
Fungsi lain yang penting dari
membran sel adalah transportasi molekul dan ion masuk dan keluar dari sel.
Membran semipermeabel yang memungkinkan molekul tertentu untuk bebas bergerak
di atasnya. Sebagian besar hidrofobik kecil (tidak ada afinitas untuk air)
molekul melewati membran ini secara bebas. Beberapa molekul bersifat hidrofilik
kecil juga dapat berhasil. Tetapi yang lain harus dilakukan melintasi membran.
Mutasi molekul melintasi membran mungkin atau mungkin tidak memerlukan
penggunaan energi sel.
Transportasi sel merupakan salah satu fungsi penting
membran plasma. Selain memberikan dukungan kepada sitoskeleton dan mengangkut
molekul dan ion, membran sel memiliki berbagai fungsi lain juga.
a. Interaksi
dengan sel lain: membran ini juga bertanggung jawab untuk melampirkan
sel pada matriks ekstraseluler (bahan non-hidup yang ditemukan di luar sel),
sehingga sel dapat mengelompokkan bersama-sama untuk membentuk jaringan.
b.
Komunikasi dengan sel lain: Molekul-molekul protein dalam membran sel menerima sinyal
dari sel lain atau lingkungan luar dan mengubah sinyal ke pesan, yang
diteruskan ke organel dalam sel.
c. Melakukan Aktivitas Metabolik: Dalam beberapa sel, molekul protein tertentu kelompok bersama untuk membentuk enzim, yang melakukan reaksi metabolisme dekat permukaan dalam dari membran sel.
c. Melakukan Aktivitas Metabolik: Dalam beberapa sel, molekul protein tertentu kelompok bersama untuk membentuk enzim, yang melakukan reaksi metabolisme dekat permukaan dalam dari membran sel.
4. Mekanisme Proses-Proses yang Terjadi pada Membran Sel
Mekanisme transpor zat melalui
membran- Dari penjelasan di depan Anda telah mengetahui bahwa sel merupakan
penyusun jaringan tumbuhan dan hewan. Segala aktivitas terjadi dalam sel,
sehingga fungsi jaringan pun dapat dilakukan dengan baik. Tentunya di sini ada
hubungan antara sel satu dengan yang lain, terutama dalam hal transpor zat-zat
untuk proses metabolisme tumbuhan. Zat-zat tersebut keluar masuk sel dengan
melewati membran sel. Cara zat melewati membran sel melalui beberapa mekanisme
berikut.
1. Transpor Pasif
Transpor pasif merupakan perpindahan
zat yang tidak memerlukan energi. Perpindahan zat ini terjadi karena perbedaan
konsentrasi antara zat atau larutan. Transpor pasif melalui peristiwa difusi,
osmosis, dan difusi terbantu.
a. Difusi
Difusi merupakan proses perpindahan
suatu zat yang terjadi secara spontan ketika ada perbedaan tekanan difusi, dari
tekanan yang tinggi ke arah tekanan yang lebih rendah. Tekanan difusi
berkorelasi positif dengan konsentrasi zat tersebut. Artinya, semakin tinggi
konsentrasinya, semakin tinggi pula tekanan difusi zat tersebut. Perhatikan
Gambar 3. Ada beberapa faktor yang memengaruhi kecepatan difusi, di antaranya suhu
dan zat yang berdifusi. Dengan naiknya suhu, energi kinetik yang dimiliki
molekul suatu zat menjadi lebih tinggi sehingga pergerakan molekul zat menjadi
lebih cepat.
Zat yang memiliki berat molekul
kecil akan lebih cepat berdifusi dibandingkan zat dengan berat molekul besar.
Oleh karena itu, zat yang paling mudah berdifusi adalah gas. Cairan relatif
lebih lambat berdifusi dibandingkan dengan gas. Tidak seluruh molekul dapat
berdifusi masuk ke dalam sel. Membran sel terdiri atas molekul-molekul
fosfolipid dengan pori-pori ultramikroskopik yang dapat melewatkan molekul-molekul
berukuran kecil dan ion. Molekul-molekul yang dapat melewati membran sel di
antaranya adalah oksigen, karbon dioksida, air, dan beberapa mineral yang larut
dalam air. Molekul berukuran sedang, seperti molekul gula dan asam amino, tidak
dapat berdifusi melewati membran sel. Pertukaran O2 dan CO2 pada proses
respirasi hewan merupakan salah satu contoh difusi. Pada prinsipnya, pada
difusi membran sel bersifat pasif. Membran sel tidak mengeluarkan energi untuk
memindahkan molekul ke luar maupun ke dalam sel.
b. Osmosis
Secara luas, proses osmosis
diartikan sebagai proses perpindahan pelarut melewati sebuah membran
semipermeabel. Secara sederhana, osmosis dapat diartikan sebagai proses difusi
air sebagai pelarut, melewati sebuah membran semipermeabel. Masuknya air ini
dapat menyebabkan tekanan air yang disebut tekanan osmotik. Pada sel tanaman
disebut tekanan turgor. Terdapat tiga sifat larutan yang dapat menentukan
pergerakan air pada osmosis, yaitu hipertonik, hipotonik, dan isotonik. Suatu
larutan dikatakan hipertonik jika memiliki konsentrasi zat terlarut lebih
tinggi dibandingkan larutan pembandingnya. Dalam hal ini, larutan pembanding
akan bersifat hipotonik karena memiliki konsentrasi zat terlarut lebih kecil.
Larutan isotonik, memiliki konsentrasi zat terlarut yang sama dengan larutan
pembanding.
Pergerakan molekul air melalui
membran semipermeabel selalu dari larutan hipotonis menuju ke larutan
hipertonis sehingga perbandingan konsentrasi zat terlarut kedua larutan
seimbang (isotonik). Misalnya, sebuah sel diletakkan di dalam air murni.
Konsentrasi zat terlarut di dalam sel lebih besar (hipertonik) karena adanya
garam mineral, asam-asam organik, dan berbagai zat lain yang dikandung sel.
Dengan demikian, air akan terus mengalir ke dalam sel sehingga konsentrasi
larutan di dalam sel dan di luar sel sama. Namun, membran sel memiliki
kemampuan yang terbatas untuk mengembang sehingga sel tersebut tidak pecah.
Pada sel darah merah, peristiwa ini disebut hemolisis (Gambar 5). Pada sel
tumbuhan, peristiwa ini dapat teratasi karena sel tumbuhan memiliki dinding sel
yang menahan sel mengembang lebih lanjut. Pada sel tumbuhan keadaan ini disebut
turgid. Keadaan sel turgid membuat tanaman kokoh dan tidak layu. Di alam, air
jarang ditemukan dalam keadaan murni, air selalu mengandung garam-garam dan
mineral-mineral tertentu. Dengan demikian, air aktif keluar atau masuk sel. Hal
tersebut berkaitan dengan konsentrasi zat terlarut pada sitoplasma. Pada saat
air di dalam sitoplasma maksimum, sel akan mengurangi kandungan mineral garam
dan zat-zat yang terdapat di dalam sitoplasma. Hal ini membuat konsentrasi zat
terlarut di luar sel sama besar dibandingkan konsentrasi air di dalam sel.
Jika sel dimasukkan ke dalam larutan
hipertonik, air akan terus-menerus keluar dari sel. Sel akan mengerut,
mengalami dehidrasi, dan bahkan dapat mati. Pada sel tumbuhan, hal ini
menyebabkan sitoplasma mengerut dan terlepas dari dinding sel. Peristiwa ini
disebut plasmolisis. Dengan demikian, pada saat tertentu, sel perlu meningkatkan
kembali kandungan zat-zat dalam sitoplasma untuk menaikkan tekanan osmotik di
dalam sel. Cara sel mempertahankan tekanan osmotiknya ini disebut osmoregulasi.
Demikian seterusnya, sel selalu aktif dan hal tersebut dilakukan untuk
mempertahankan kondisi setimbang antara sel dan lingkungannya. Proses
metabolisme membutuhkan air dan mineral atau garam dan berbagai zat yang
terkandung dalam sitoplasma. Akibatnya, tekanan osmotik dan konsentrasi
molekul-molekul lain berubah sehingga terjadi aliran difusi dan osmosis yang
terus-menerus dari sel ke luar atau dari luar ke dalam sel.
c. Difusi Terbantu
Proses difusi terbantu difasilitasi
oleh suatu protein. Difusi terbantu sangat tergantung pada suatu mekanisme
transpor dari membran sel. Difusi terbantu dapat ditemui pada kehidupan
sehari-hari, misalnya pada bakteri Escherichia coli yang diletakkan pada media
laktosa. Membran sel bakteri tersebut bersifat impermeabel sehingga tidak dapat
dilalui oleh laktosa. Setelah beberapa menit kemudian bakteri akan membentuk
enzim dari dalam sel yang disebut permease, yang merupakan suatu protein sel.
Enzim permease inilah yang akan membuatkan jalan bagi laktosa sehingga laktosa
ini dapat masuk melalui membran sel.
2. Transpor
Aktif
Transpor aktif merupakan transpor partikel-partikel
melalui membran semipermeabel yang bergerak melawan gradien konsentrasi yang
memerlukan energi dalam bentuk ATP. Transpor aktif berjalan dari larutan yang
memiliki konsentrasi rendah ke larutan yang memiliki konsentrasi tinggi,
sehingga dapat tercapai keseimbangan di dalam sel. Adanya muatan listrik di
dalam dan luar sel dapat mempengaruhi proses ini, misalnya ion K+, Na+dan Cl+.
Peristiwa transpor aktif dapat Anda lihat pada peristiwa masuknya glukosa ke
dalam sel melewati membran plasma dengan menggunakan energi yang berasal dari
ATP. Contoh lain terjadi pada darah di dalam tubuh kita, yaitu pengangkutan ion
kalium (K) dan natrium (Na) yang terjadi antara sel darah merah dan cairan
ekstrasel (plasma darah). Kadar ion kalium pada sitoplasma sel darah merah tiga
puluh kali lebih besar daripada cairan plasma darah. Tetapi kadar ion natrium
plasma darah sebelas kali lebih besar daripada di dalam sel darah merah. Adanya
pengangkutan ion bertujuan agar dapat tercapai keseimbangan kadar ion di dalam
sel. Mekanisme transpor ion ini dapat terlihat pada Gambar
Perbedaan utama antara transpor
aktif, osmosis, dan difusi adalah energi yang dikeluarkan sel. Pada osmosis dan
difusi, sel tidak mengeluarkan energi apapun untuk memindahkan zat melewati
membran sel karena zat berpindah sesuai dengan gradien konsentrasi. Dengan kata
lain, difusi dan osmosis terjadi secara spontan. Transpor aktif merupakan
mekanisme pemindahan molekul atau zat tertentu melalui membran sel, berlawanan
arah dengan gradien konsentrasi. Oleh karena itu, harus ada energi tambahan
dari sel yang digunakan untuk membantu perpindahan tersebut. Energi tambahan
yang digunakan dalam proses transpor aktif berasal dari ATP yang dihasilkan
oleh mitokondria melalui proses respirasi. Selain itu, pada membran sel
terdapat lapisan protein. Salah satu jenis protein yang terdapat di membran sel
tersebut adalah protein transpor. Protein transpor mengenali zat tertentu yang
masuk atau keluar sel. Zat yang dipindahkan dengan cara transpor aktif pada
umumnya adalah zat yang memiliki ukuran molekul cukup besar sehingga tidak
mampu melewati membran sel. Sel mengimbangi tekanan osmosis lingkungannya
dengan cara menyerap atau mengeluarkan molekul-molekul tertentu. Dengan
demikian, terjadi aliran air masuk atau keluar sel. Kemampuan mengimbangi
tekanan osmosis dengan transpor aktif menjadi sangat penting untuk bertahan
hidup. Pompa natrium kalium merupakan contoh transpor aktif yang banyak
ditemukan pada membran sel. Perpindahan molekul ini menggunakan energi ATP
untuk mengeluarkan natrium (Na+) keluar sel dan bersama dengan itu memasukkan
kalium (K+) ke dalam sel. Perhatikan gambar berikut.
Ion Na+ dan K+ dengan transpor aktif dapat melewati
membran sel. (1) Ion Na+ terikat pada suatu tempat di protein membran. (2) Ion
Na+ tersusun dengan formasi tertentu untuk dilepaskan ke luar sel. (3) Ion K+
dari luar diikat. (4) Hal ini merangsang membran sel untuk kembali ke bentuk
semula. (5) Ion K+ dilepaskan protein membran dan masuk ke dalam sel.
Peristiwa transpor aktif dibedakan menjadi dua, yaitu
endositosis dan eksositosis.
a. Endositosis
Endositosis merupakan mekanisme pemindahan benda dari
luar ke dalam sel. Istilah endositosis berasal dari bahasa Yunani, endo artinya
ke dalam dan cytos artinya sel. Membran sel membentuk pelipatan ke dalam
(invaginasi) dan “memakan” benda yang akan dipindahkan ke dalam sel. Di dalam
sel, benda tersebut dilapisi oleh sebagian membran sel yang terlepas membentuk
selubung. Proses makan pada Amoeba adalah contoh mudah untuk
menggambarkan proses endositosis. Endositosis membran sel pada Amoeba,
akan membentuk vakuola (Gambar 8). Pada vakuola ini, tempat makanan
dicerna, diserap, dan dikeluarkan sisa-sisa.
Terdapat tiga bentuk endositosis,
yaitu fagositosis, pinositosis, dan endositosis dengan bantuan
reseptor. Proses makan pada Amoeba merupakan contoh fagositosis.
Pada proses fagositosis, benda yang dimasukkan ke dalam sel berupa zat atau
molekul padat. Adapun pada pinositosis berupa zat cair. Berbeda dengan
fagositosis dan pinositosis, pada endositosis dengan bantuan reseptor hanya
menerima molekul yang sangat spesifik. Di dalam lekukan membran plasma terdapat
reseptor protein yang akan berikatan dengan protein molekul yang akan diterima
sel (Gambar 9).
b. Eksositosis
Eksositosis adalah proses keluarnya
suatu zat ke luar sel. Proses ini dapat Anda lihat pada proses kimia yang
terjadi dalam tubuh kita, misalnya proses pengeluaran hormon tertentu. Semua
proses sekresi dalam tubuh merupakan proses eksositosis. Sel-sel yang
mengeluarkan protein akan berkumpul di dalam badan golgi. Kantong yang berisi
protein akan bergerak ke arah permukaan sel untuk mengosongkan isinya.
Proses Amoeba mengeluarkan
sisa-sisa makanan melalui vakuolanya adalah satu contoh eksositosis. Istilah
eksositosis berasal dari bahasa Yunani, exo artinya keluar dan cytos artinya
sel. Vakuola atau selubung membran melingkupi sisa zat makanan yang sudah
dicerna. Kemudian, bergabung kembali dengan membran sel dan sisa zat makanan
untuk di buang keluar sel. Jadi, eksositosis adalah proses mengeluarkan benda
dari dalam sel ke luar sel. Membran yang menyelubungi sel tersebut akan bersatu
atau berfusi dengan membran sel. Cara ini adalah salah satu mekanisme yang
digunakan sel-sel kelenjar untuk menyekresikan hasil metabolisme. Misalnya,
sel-sel kelenjar di pankreas yang mengeluarkan enzim ke saluran
pankreas yang bermuara di usus halus. Sel-sel tersebut mengeluarkan enzim dari
dalam sel menggunakan mekanisme eksositosis
, eksosistosis dan endositosis digunakan untuk
memindahkan benda-benda yang berukuran besar. Kedua proses tersebut, saling
menyeimbangkan luas permukaan plasma membran sehingga volume sel tidak harus
menjadi lebih kecil dari semula.
DAFTAR PUSTAKA
Alberts B. 1994. Biologi Molekuler
Sel, Edisi Kedua. Penerbit PT Gramedia
Pustaka Utama: Jakarta.
Anonimus. Mekanisme Transpor pada Membran. (online), (http://www.artikelbiologi.com/2012/08/mekanisme-transpor-pada-membran.html), diakses
tanggal 18 september 2013
Budiyanto.Mekanisme Transpor Zat
Melalui Membran. (online), (http://budisma.web.id/mekanisme-transpor-zat melalui-membran.html), diakses
tanggal 18 september 2013
Darmadi dan Yustina. 2013. Fisiologi
Hewan. Unri Press:Pekanbaru
Reece,campbell Mitchel.2000.Biologi
Jilid 1.Jakarta: Erlangga
Sridianti. Transportasi Aktif pada
Membran Sel. (online), (http://www.sridianti.com/transportasi-aktif-pada-membran-sel.html), diakses
tanggal 18 september 2013
keren... :D
BalasHapusterimakasih 🙏
Hapus