1.1. PERKEMBANGAN TEORI
TENTANG SEL
Sel
merupakan massa protoplasma berbatas membran dengan sistem organisasi yang
sangat kompleks. Sel bukan merupakan suatu bangunan statis, melainkan sebuah
struktur yang sangat dinamis. Berbagai jenis aktivitas hidup yang berlangsung
di dalam tubuh organisme pada dasarnya berlangsung di dalam sel dengan
mekanisme sistem yang sangat harmonis. Aktivitas satu sel menunjang aktivitas
sel yang lain membentuk suatu sistem yang sangat harmonis untuk menunjang
sebuah kehidupan yang fungsional.
Anthony van Leeuwenhoek (1632-1723),
seorang yang berkebangsaan Belanda merupakan orang pertama yang menemukan
mikroskop dan meneliti organisme mikroskopis seperti berbagai Protozoa dan
Rotifera yang oleh Beliau diberi nama ”animanculus”,
berbagai jenis bakteri, meliputi bakteri basil dan bakteri spiral;. mengamati
sperma pada manusia, katak, anjing, kelinci, dan ikan. Beliau juga mengamati
pergerakan sel-sel darah di dalam kapiler kaki katak dan daun telinga pada
kelinci.
Sumber : http://www.royalsociety.org/downloaddoc.asp dan
http://www.tulane.edu
Gambar-1.1 Anthony van Leeuwenhoek (1632-1723), dan mikroskop sederhana serta jenis
protozoa hasil temuannya
Marcello
Malphigi (1628-1694), seorang berkebangsaan Italia merupakan orang pertama yang
menggunakan mikroskop dalam mengamati sayatan jaringan pada organ-organ
tertentu, seperti otak, hati, ginjal, limfa, dan paru-paru. Selain itu, dia
juga mengamati perkembangan embrio ayam. Dari hasil pengamatannya, dia menyimpulkan
bahwa jaringan tersusun atas unit-unit struktural yang ia sebut utricles (De Robertis, 1988).
Robert Hooke
(1663) merupakan orang pertama yang memperkenalkan istilah sel berdasarkan
hasil pengamatannya pada sayatan sumbat gabus. Ia melaporkan bahwa sumbat gabus
terdiri atas ruang-ruang kecil yang diberi nama sel (bahasa Yunani: Cellula yang bermakna ruang-ruang
kecil).
Gambar-1.3 Ruang-ruang kecil pada sayatan sumbat gabus, R. Hooke (1663) dan mikroskop
sederhana
Rene
Dutrochet (1776-1847), seorang yang berkebangsaan Perancis, melaporkan bahwa
semua hewan dan tumbuhan terdiri atas kumpulan sel-sel globular. Pada tahun
1831, Robert Brown (1773-1858), seorang yang berkebangsaan Inggris, melaporkan
bahwa sel-sel epidermis tumbuhan, serbuk sari, dan kepala putik mengandung
suatu struktur yang konstan yang disebut inti. Pada tahun 1840, Johannes E.
Purkinye (1787-1869), seorang yang berkebangsaan Cekoslovakia, memperkenalkan
istilah protoplasma. Pada tahun 1861, W. Schultze menyatakan bahwa protoplasma
merupakan dasar fisik dari kehidupan. Protoplasma adalah substansi hidup
yang berbatas membran dimana di dalamnya terdapat inti atau nukleus (Karp,
1984).
Sumber : http://
home.tiscalinet.ch/biografien/images/schleiden dan
http://home.tiscalinet.ch/biografien/images
Gambar-1.5 Mathias J. Schleiden(1804-1882), T(1810-1882). Schwann dan R.
Virchow(1821-1902)
Pada tahun
1938, Mathias J. Schleiden (1804-1882), seorang ahli pengetahuan berkebangsaan
Jerman, melaporkan bahwa tubuh tumbuhan tersusun atas sel. Secara terpisah,
pada tahun 1839 Theodore Schwann (1810-1882) yang juga seorang ahli pengetahuan
berkebangsaan Jerman, melaporkan bahwa tubuh hewan tersusun atas sel. Schwann
kemudian mengusulkan dua azas yang dikenal dengan teori sel, yaitu: Semua
organisme terdiri atas sel, dan sel merupakan unit dasar organisasi kehidupan.
Sepuluh tahun kemudian R. Virchow (1821-1902) mengusulakn azas ketiga teori sel
yang berbunyi: Semua sel berasal dari sel yang telah ada sebelumnya (Omnis cellula e cellulaI) (Sheeler &
Bianchi, 1983). Kemudian Louis Pasteur (1908-1895) mengemu-kakan teori
biogenesis yang menyatakan bahwa setiap makhluk hidup berasal dari makhluk
hidup sebelumnya (Omne vivum e vivo).
(Thorpe, 1984; Sheeler and Bianchii, 1983; dan Albert et al., 1984)
Sumber :
http://art-random.main.jp/samescale/
Gambar-1.6 L. Pasteur (1808-1895)
Berdasarkan
penelitian-penelitian yang dilakukan para ilmuwan tersebut diambil suatu
kesimpulan, yaitu: sel merupakan kesatuan struktural dari makhluk hidup, sel
merupakan kesatuan fungsional dari makhluk hidup, dan sel merupakan kesatuan
hereditas dari makhluk hidup. Namun, dalam lingkup yang lebih kompleks, teori
sel mengandung makna (Villee et al., 1985), yaitu:
1. Semua makhluk hidup terdiri atas sel;
2. Sel yang baru dibentuk, berasal dari pembelahan sel sebelumnya;
3.
Semua sel memiliki kemiripan yang mendasar dalam hal komposisi kimia dan
aktivitas me tabo-lismenya;
4. Aktivitas dari suatu organisme dapat dimengerti sebagai aktivitas kolektif, dan
interaksi-interaksi dari unit-unit seluler bergantung satu dengan yang lainnya
menurut De Robertis et al., (1975), sebuah sel harus memenuhi beberapa kriteria yaitu :
1. Memiliki membran plasma;
2. Mengandung materi genetic yang penting untuk mengkode
berbagai jenis RNA, termasuk untuk sintesis protein;
3. Mengandung “mesin biosintesis” tempat di mana sintesis
berlangsung.
sumber : biologi2010.blogspot.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar